Masuk

Ingat Saya

Mengeksploitasi Teknologi untuk Tindakan Kemanusiaan

Screenshot Ibu RosidaApakah Anda masih ingat kisah seorang ibu penderita kander payudara yang beberapa waktu lalu gencar diberitakan media? Ya, beliau adalah Ibu Rosida, seorang ibu berusia 46 tahun yang beberapa waktu lalu sempat dievakuasi dan menjalani perawatan medis di RS. Dharmais. Setelah diusir dari kontrakan akibat penyakitnya, ia hanya bisa menempati sebuah gerobak dengan kondisi yang sangat memprhatinkan. Saat ditemukan, kondisi sang ibu telah parah, seperempat dari bagian tubuhnya telah membusuk akibat ketiadaan perawatan. Saat itu, tidak ada orang yang mau peduli dengan keadaannya. Namun berkat media, cerita tentang Ibu Rosida dengan cepat menjadi perbincangan hangat di khalayak pengguna media sosial dan memunculkan inisiatif untuk menggalang donasi. Di sinilah bagian yang menarik perhatian saya. Bagaimana perjalanan Ibu Rosida akhirnya bisa mendapatkan bantuan dan sampai di tangan medis adalah bagian cerita yang layak untuk dipelajari.

Seperti yang kita ketahui, melalui bantuan kampanye dari Lovepink (gerakan sosial untuk mendampingi perjuangan wanita-wanita yang terdiagnosa kanker payudara) dan situs fundraising kitabisa.com, terkumpullah sejumlah sumbangan untuk biaya pengobatan Ibu Rosida. Seperti informasi yang diberikan oleh pemilik akun Facebook Vikra Ijas yang juga merupakan salah satu fundraiser Ibu Rosida, dalam 2 hari, kampanye penggalangan dana tersebut telah mencapai sejumlah Rp 147 juta yang berasal lebih dari 400 donatur. Adapun jumlah dana ini pun terus bertambah. Seperti informasi yang saya dapatkan langsung dari situs kitabisa.com, penggalangan dana saat itu telah mencapai sebanyak lebih dari Rp 200 juta. Nah, lalu apa yang penting? Bagi saya ini adalah bukti nyata bagaimana masyarakat sipil Indonesia dapat secara penuh memanfaatkan kehadiran teknologi untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama.

Saat ini, diskusi mengenai masyarakat sipil (civil society) telah menjadi semakin populer tidak hanya di bidang politik atau bisnis tetapi juga media populer, terutama di media internet. Sekarang ada banyak organisasi yang memanfaatkan teknologi untuk memberikan suara kepada mereka yang tidak dapat bersuara (give a voice to the voiceless). Ada banyak definisi yang diajukan, tetapi intinya masyarakat sipil adalah sekelompok individu di luar batas keluarga, negara atau perdagangan yang datang bersama-sama dari berbagai lintas negara dan budaya untuk mencapai tujuan bersama.

Tujuan masyarakat sipil bisa bermacam-macam. Masyarakat sipil bisa masuk ke dalam tataran pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup bahkan dalam mempromosikan perdamaian dunia. Dalam banyak kasus, masyarakat sipil menjadi jembatan bagi masyarakat, membuat kondisi lebih baik ketika pemerintah dan swasta tidak dapat memenuhi kebutuhan konstituen masyarakat. Sehingga dapat dikatakan masyarakat sipil hadir sebagai pengisi kesenjangan.

“By relying on mobile phones, mapping applications, and other new tools, we can empower citizens and […] address deficiencies in the current market for innovation.”
—Secretary of State Hillary Rodham Clinton

Perannnya semakin penting tatkala kini semakin banyak orang yang memiliki akses terhadap komputer, ponsel dan perangkat mobile lainnya yang dapat menangkap dan mengirimkan gambar, audio maupun video. Perkembangan teknologi terbaru telah membantu orang-orang untuk berbagi informasi, berkomunikasi, mengatur dan mengadvokasi kepentingan mereka. Namun, teknologi saja tidak bisa membawa perubahan sosial. Teknologi tersebut hanya dapat memfasilitasi perubahan sosial, bukan menciptakannya.

Dan sementara teknologi saja tidak menyelesaikan apa-apa, teknologi koneksi (connection technology) memiliki potensi yang luar biasa untuk mendorong dan memperkuat masyarakat sipil kita untuk melakukan perubahan sosial. Ketika digunakan oleh individu dan organisasi yang bekerja untuk perubahan sosial, teknologi tersebut bisa menjadi sekutu yang kuat. Untuk dapat memanfaatkan potensi penuh dari teknologi ini sebagai alat yang memungkinkan dan mendorong aksi sipil, orang harus menggunakannya secara terampil, produktif dan kredibel. Di sinilah fenomena Ibu Rosida sedikit banyak telah menunjukkan bagaimana persimpangan antara masyarakat sipil dengan teknologi mampu menguatkan dan memberdayakan masyarakat untuk menciptakan perubahan sosial di lingkungan sekitarnya.

Bagi saya, inilah yang dinamakan dengan melek teknologi yang sebenarnya. Masyarakat tidak lagi hanya duduk di kursi pengemudi. Masyarakat menggunakan teknologi untuk merubah hidup, mengurangi kesenjangan dan meningkatkan kualitas komunitas mereka. Saat ini, teknologi telah mampu berkontribusi dalam hal kemanusiaan. Dalam perkembangannya, saya yakin adanya masyarakat sipil yang diperkuat dengan potensi teknologi dapat membantu mempromosikan perdamaian baik di level negara maupun dunia.

©Tina Latief 2016

Tulisan ini pernah diposting dalam situs akademik Tina Latief

Dengan